Celoteh

Kenapa Gen Z Makin “Kabur” Saat Lebaran?

Triono Agung
25 March 2026
4 min read
Kenapa Gen Z Makin “Kabur” Saat Lebaran?

Ada satu aroma yang lebih menyengat daripada bau rendang di kuali emak pas malam takbiran, Sob. Tau nggak apa? Bau-bau anxiety. Bagi sebagian Gen Z, gema takbir itu bukan cuma penanda kemenangan setelah sebulan puasa, tapi juga suara peluit kick-off dimulainya pertandingan ketahanan mental melawan pertanyaan-pertanyaan "ajaib" dari om, tante, dan sepupu jauh yang bahkan kita nggak tau namanya siapa.

Dulu, pas kita masih kecil, Lebaran itu simpel. Pakai baju koko kegedean, keliling komplek, salaman, terus dapet amplop isi 20 ribu yang langsung disita emak dengan alasan "disimpen emak dulu". Beres. Bahagia banget hidup kita saat itu.

Tapi sekarang? Begitu masuk usia produktif (tapi belum tentu berpenghasilan produktif), Lebaran berubah jadi sidang skripsi tanpa dosen pembimbing. Pertanyaannya makin lama makin nggak masuk akal. Dari yang standar kayak "Kapan lulus?" sampai yang level high-level kayak "Kok belum ganti mobil?" atau yang paling legendaris: "Kapan nikah? Itu anaknya Tante Sunarti aja udah mau punya anak kedua".

Di istilah psikologis ada namanya Social Evaluation Anxiety, yaitu ketakutan intens dan terus-menerus akan dinilai, dikritik, atau dievaluasi secara negatif oleh orang lain dalam situasi sosial. Kondisi ini bikin makin parah pas momen kumpul keluarga besar karena kita ngerasa lagi "dinilai" berdasarkan pencapaian materi dan status sosial. Fakta unik lainnya, kata "Silaturahmi" itu asalnya dari bahasa Arab Shilah (menyambung) dan Ar-Rahim (kasih sayang). Jadi, kalau silaturahmi isinya malah saling menyudutkan atau pamer harta, itu namanya bukan silaturahmi, tapi "Sila-Adu-Nasib".

Fenomena "Lebaran Introvert" dan Kabur ke Luar Kota

Dilihat dari tren sosmed belakangan ini, sekarang muncul fenomena pergeseran budaya. Kalau dulu mudik itu wajib hukumnya, sekarang Gen Z banyak bersuara untuk menghilang atau kabur. Alih-alih pulang ke kampung halaman keluarga yang penuh dengan pertanyaan "Kapan?" dan "Kok?", banyak dari kita yang lebih milih "healing" ke Bali, Bandung, atau malah cuma ngurung diri di kamar kosan sambil marathon film.

Bukan karena nggak sayang keluarga, Sob. Tapi karena "Social Battery" kita itu seringkali udah bocor duluan gara-gara tekanan kerja atau skripsi yang nggak kelar-kelar. Kita ngerasa, daripada pulang malah bikin mental breakdown, mending kita "menghilang" sejenak. Silaturahmi? Ya lewat video call aja, kan udah 5G. Hemat ongkos, hemat tenaga, dan yang paling penting: hemat stok sabar.

Transformasi "Salam Tempel" Menjadi "Salam Beban"

Dulu kita yang nerima THR, sekarang kita yang diharapkan ngasih THR. Ini adalah transisi paling menyakitkan dalam sejarah hidup manusia. Begitu terlihat kerja di kota besar, ekspektasi keluarga langsung melonjak drastis. Lo dianggap punya pohon duit di halaman rumah. Padahal, buat bayar cicilan paylater aja masih harus puasa senin-kamis.

Fenomena kabur atau menghindar ini sebenernya adalah bentuk pertahanan diri (defense mechanism). Kita lebih milih dicap "sombong" atau "jarang pulang" daripada harus senyum palsu di depan piring opor sambil dengerin tante kita pamer soal menantunya yang baru dapet promosi jabatan.

Mencari Titik Tengah: Silaturahmi Tanpa Toxic

Tapi, Sob, kalau kita kabur terus, kapan masalahnya selesai? Mungkin solusinya bukan dengan menghilang total, tapi dengan memasang filter. Belajar buat "tuli" sesaat atau punya jawaban-jawaban template yang lucu buat ngebales pertanyaan mereka. Kalau ditanya "Kapan nikah?", bisa jawab "Nanti Tante, kalo nggak hari sabtu ya minggu."

Lebaran harusnya jadi momen buat istirahat dari hiruk-pikuk dunia, bukan malah jadi sumber stres baru. Gaya hidup yang sehat itu bukan cuma soal makan sayur, tapi juga soal menjaga kesehatan mental dari lingkungan yang toxic, termasuk keluarga sendiri kalau perlu.

Jadi, buat yang Lebaran tahun ini milih buat nggak mudik atau milih buat mojok di kamar sambil main Mobile Legends, jangan merasa bersalah. Lo berhak dapet ketenangan. Tapi buat yang tetep berani pulang dan menghadapi "medan perang", gua angkat topi buat lo seorang pejuang silaturahmi yang sebenernya.

Inget, opor itu enak, tapi kesehatan mental jauh lebih enak. Jangan sampe gara-gara satu pertanyaan "Kapan?", jadi kehilangan makna kemenangan setelah sebulan berjuang. Selamat Lebaran, selamat bersembunyi (atau bertahan), Sob!

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media