Ada satu template cerita sukses yang hampir selalu sama: “Dulu saya miskin banget, makan cuma pakai garam, tidur beralaskan kardus, lalu bangkit dan sekarang punya perusahaan.” Masalahnya, kadang “miskin banget”-nya itu definisinya agak fleksibel. Maksudnya miskin secara spiritual? Atau miskin karena waktu itu mobilnya baru satu?
Fenomena orang kaya yang mengaku miskin demi memperkuat narasi heroik sebenarnya bukan hal baru. Di dunia branding personal, penderitaan adalah bumbu penyedap. Tanpa drama, cerita terasa hambar. Padahal kenyataannya, tidak semua orang sukses berangkat dari titik nol. Ada yang berangkat dari titik 70, bahkan 90. Tapi kan kurang cinematic kalau dibuka dengan kalimat, “Saya dulu anak pengusaha sukses dan difasilitasi pendidikan terbaik.”
Di media sosial, kisah “from zero to hero” memang lebih laku. Algoritma menyukai cerita yang menyentuh, apalagi kalau ada elemen nangis-nangisnya. Penonton pun merasa relate, merasa terwakili. Masalahnya muncul ketika narasi itu tidak sepenuhnya jujur. Bukan soal seseorang pernah susah atau tidak, melainkan soal skala dan konteks yang dibelokkan.
Kenapa orang kaya perlu mengaku miskin? Karena penderitaan memberi legitimasi moral. Ia membuat kesuksesan terasa “pantas” Seolah-olah kalau tidak pernah jatuh miskin, maka tidak cukup layak untuk sukses besar. Padahal sukses tidak selalu harus dibuktikan dengan trauma masa lalu.
Ada juga unsur romantisasi “struggle culture” Kita hidup di era di mana lelah dianggap prestasi, kurang tidur dianggap badge of honor, dan penderitaan jadi konten. Maka, semakin tragis latar belakangmu, semakin tinggi pula standing ovation-nya.
Dalam psikologis, narasi heroik semacam ini disebut sebagai self-enhancement storytelling yakni cara seseorang meningkatkan citra diri melalui konstruksi cerita. Dalam studi psikologi sosial, manusia memang cenderung menyusun ulang masa lalu agar tampak lebih dramatis atau bermakna. Tapi ketika itu dilakukan untuk memanipulasi empati publik, ceritanya jadi lain.
Penelitian di Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan orang lebih simpatik pada figur publik yang mengaku pernah mengalami kesulitan, meski kesulitan tersebut relatif ringan dibandingkan persepsi publik.
Fenomena ini juga memperlihatkan ketimpangan sosial yang lebih dalam. Banyak orang benar-benar berjuang dari nol tanpa akses, tanpa koneksi, tanpa safety net. Ketika kisah mereka tertutup oleh cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, yang dirugikan bukan cuma publik, tapi juga mereka yang betul-betul berjuang.
Mengakui privilege justru membuat audien kurang tertarik karena kurangnya relate dengan situasi kebanyakan masyarakat dan miskin bumbu perjuangan yang membuat cerita kurang menarik untuk diikuti. Bayangkan ada yang berkata, “Saya beruntung lahir dari keluarga mampu. Saya mendapat akses pendidikan terbaik, dan saya ingin memanfaatkannya untuk memberi dampak.” Terlihat kurang menarik dan malah memancing persepsi sebagian orang yang beranggapan ia sedang flexing.
Karena pada akhirnya, sukses bukan kompetisi siapa yang paling menderita. Sukses adalah soal apa yang kita lakukan dengan kesempatan yang kita miliki, dan tidak semua cerita butuh air mata untuk terasa bermakna.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan kisah suksesnya, tapi ekspektasi kita terhadapnya. Bahwa orang sukses tidak harus pernah jadi korban untuk pantas dihargai. Bahwa jujur tentang privilege bukan dosa. Miskin juga bukan properti cerita yang bisa dipinjam sesuka hati demi tepuk tangan.
Kalau terus begini, nanti ada yang benar-benar miskin malah dituduh settingan, dan itu jauh lebih menyedihkan daripada cerita heroik yang terlalu dibumbui.