Kalau ngomongin Gorillaz, kita nggak cuma ngomongin band. Kita ngomongin proyek lintas dimensi. Band "kartun" yang hidup di dunia nyata, kolaborasinya lintas genre, dan tiap albumnya selalu kayak eksperimen laboratorium musik yang sukses mencuri perhatian.
Di album terbarunya, “The Mountain” yang dirilis 27 Februari 2026 kemarin, Gorillaz kembali bikin pendakian. Tapi ini bukan soal naik gunung bawa carrier. Ini pendakian musikal naik dari satu kultur ke kultur lain, dari satu genre ke genre lain, tanpa takut tersesat.
Dan seperti biasa, otak di balik semua kekacauan terkontrol ini adalah Damon Albarn, yang dari dulu memang hobi banget bikin musik yang nggak mau duduk manis di satu kursi genre.
Album yang Rasanya Kayak Festival Dunia. Kalau lo denger “The Mountain” dari awal sampai akhir, rasanya kayak lagi keliling festival musik internasional.
Ada sentuhan hip-hop, elektronik, alt-rock, bahkan warna world music yang kental. Bukan tempelan. Tapi benar-benar diramu jadi satu lanskap suara yang terasa global.
Gorillaz memang punya sejarah panjang kolaborasi lintas budaya. Di album-album sebelumnya seperti Plastic Beach dan Humanz, mereka sudah terbiasa menggandeng musisi dari berbagai latar belakang. Tapi di “The Mountain”, pendekatannya terasa lebih reflektif.
Kalau biasanya Gorillaz terdengar seperti pesta distopia, kali ini lebih seperti perjalanan. Ada momen energik, tapi juga banyak ruang kontemplatif.
Kolaborasi lintas budaya seringkali cuma jadi label promosi. Tapi di tangan Gorillaz, ini bukan strategi marketing. Ini identitas.
Secara historis, Gorillaz memang lahir dari gagasan bahwa musik adalah ruang tanpa batas. Sejak debut lewat Gorillaz, mereka sudah mencampur hip-hop Amerika dengan britpop dan elektronik.
“The Mountain” terasa seperti evolusi alami dari itu. Musiknya kaya tekstur. Kadang beat-nya urban banget, kadang instrumennya terasa etnik dan organik. Tapi uniknya, semua itu tetap terdengar… Gorillaz.
Gorillaz memang band virtual yang dibentuk oleh Damon Albarn dan ilustrator Jamie Hewlett. Karakter animasinya — 2D, Murdoc, Noodle, dan Russel yang punya lore sendiri yang berkembang tiap era album.
Album-album Gorillaz yang hampir selalu penuh kolaborator lintas genre, dari rapper, penyanyi soul, musisi indie, sampai musisi tradisional.
Secara produksi, Damon Albarn dikenal suka bereksperimen dengan rekaman di berbagai lokasi dunia untuk menangkap “rasa” tempat tersebut. Jadi kalau “The Mountain” terasa global, itu bukan kebetulan.
Judul “The Mountain” sendiri terasa simbolis. Gunung itu tinggi, sunyi, dan butuh usaha buat sampai puncak. Bisa jadi ini metafora perjalanan kreatif. Bisa juga refleksi tentang dunia yang makin terfragmentasi, tapi tetap bisa dipertemukan lewat musik.
Dalam beberapa track, ada nuansa refleksi tentang identitas dan koneksi manusia. Di era di mana budaya sering diperdebatkan dan dibatasi, Gorillaz justru menyatukannya dalam satu album. Dan itu relevan banget.
“The Mountain” bukan album yang simpel. Tapi juga bukan yang ribet buat gaya-gayaan.
Dia kaya, tapi nggak sombong.
Eksperimental, tapi tetap punya hook.
Global, tapi tetap personal.
Gorillaz sekali lagi membuktikan bahwa musik bisa jadi ruang pertemuan, bukan sekadar hiburan.
Sekarang pertanyaannya, sob…
Lo siap naik gunung musikal ini, atau masih di basecamp playlist lama?