Celoteh

Fakta Menyusutnya Pernikahan di RI: Nikah Bukan Lagi Jadi Target Utama

Triono Agung
01 March 2026
4 min read
Fakta Menyusutnya Pernikahan di RI: Nikah Bukan Lagi Jadi Target Utama

Zaman dulu kita sebagian sobat Gen Z waktu kecil mungkin pernah denger nasihat: “Nikah itu wajib, jangan kelamaan nikah keburu jadi perawan/perjaka tua”. Tapi kalau kita lihat data terbaru, bukan opini tetangga — tren nikah di Indonesia kayaknya udah mulai berubah haluan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, tren pernikahan di Indonesia menurun cukup signifikan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, angka pernikahan nasional pada 2014 masih di atas 2,1 juta pasangan. Tapi perlahan, tahun demi tahun jumlahnya turun, dan pada tahun 2023 angka itu tinggal 1,58 pernikahan — turun sekitar 28,63 persen dari puncaknya sepuluh tahun lalu.

Bahkan beberapa laporan terbaru menunjukkan angka pernikahan terus turun di tahun berikutnya, termasuk data proyeksi 2024 yang mencatat jumlahnya turun lagi menjadi sekitar 1,48 juta pernikahan secara nasional.

Kalau lo ngeliat data itu grafiknya, yang muncul bukan garis meroket romantisme, tapi grafik yang turun kayak harga diskon setelah jam 12 malam: stabil turun.

📉 Dari lebih dari 2 juta di 2018
📉 Menjadi ~1,7 juta di 2022
📉 Turun lebih jauh jadi ~1,58 juta di 2023

Kenapa Kok Bisa Turun? Ada Banyak Faktor

Ekonomi yang Bikin Pusing

Nikah itu bukan sekadar ijab kabul. Biaya nikah bisa panjang seperti daftar belanja: dari biaya resepsi, mahar, biaya hidup berdua, sampai memikirkan rumah yang bisa dijadiin tempat tinggal. Di tengah ekonomi yang sering dirasakan berat, banyak yang menunda atau nggak buru-buru nikah duluan.

Pendidikan dan Karier Jadi Prioritas

Generasi muda sekarang banyak yang ngejar kuliah lanjut, kesempatan kerja, hingga mobilitas karier. Mendahulukan pengalaman hidup itu mulai jadi pilihan yang oke dibanding target nikah di usia tertentu.

Pergeseran Pandangan Sosial

Fenomena “tunda nikah” atau bahkan willing to remain single makin lazim. Banyak yang sadar bahwa kehidupan bersama pasangan itu bukan cuma soal sah di kertas, tapi soal kesiapan mental, finansial, dan emosional. Kalau belum siap, ya… yaudah santai dulu.

Usia Menikah Semakin Tinggi

BPS juga menunjukan trend bahwa banyak orang menunda pernikahan: generasi muda (16–30 tahun) yang belum menikah mencapai sekitar 68–71 persen di tahun-tahun terakhir. Artinya, mayoritas anak muda kini lebih memilih status lajang lebih lama.

Faktor Hukum & Regulasi

Perubahan Undang-Undang Perkawinan pada tahun 2019 juga menaikkan usia minimum menikah menjadi 19 tahun untuk pria dan wanita, yang diperkirakan turut menggeser tren menikah lebih dini.

Dengan Turunnya Pernikahan, Apa Dampaknya?

Lebih Sedikit Pasangan Menikah = Menua Masyarakat Lebih Cepat
Beberapa ahli demografi memperingatkan bahwa turunnya angka pernikahan berimplikasi pada menurunnya fertilitas dan tingkat kelahiran. Kalau pasangan menikah makin sedikit, otomatis peluang memiliki anak pun ikut turun, yang bisa berpengaruh terhadap bonus demografi Indonesia di masa depan.

Wedding Industry Kena Imbasnya
Industri pernikahan yang biasanya rame-rame tiap akhir tahun kini mulai turun. Hotel, EO pernikahan, katering, pajangan bunga semua ikut ngefek karena makin berkurang yang nikah.

Perubahan Budaya Hidup
Yang dulu dianggap wajib, sekarang bisa jadi pilihan. Menikah tidak lagi dianggap sebagai capaian utama hidup. Banyak yang memandang hidup bersama tanpa nikah atau fokus ke karier lebih masuk akal duluan.

Fakta Unik & Trivia Panjang – Karena Data Itu Asik (Kalau Dibuat Ringan)

- Pernikahan turunnya berkelanjutan selama 10 tahun terakhir, meski sempat naik sedikit di periode 2017–2018, tren keseluruhannya tetap turun.

- Jumlah generasi muda yang sudah menikah turun dari sekitar 44,45% di awal 2010-an menjadi sekitar 30,61% saja di 2023.

- Tren ini bukan cuma soal “tidak ada yang mau nikah”. Banyak yang bilang bahwa nikah itu butuh persiapan matang, bukan sekadar status. Pendidikan lebih tinggi, pekerjaan yang "mapan", biaya hidup tinggi — semuanya bikin keputusan nikah jadi sesuatu yang dipikir berkali-kali.

Jadi soal angka menikah di Indonesia memang turun, dan itu bukan sekadar angka statistik yang turun tajam tanpa alasan. Ini cerita dari gaya hidup, ekonomi, budaya, hingga prioritas generasi muda yang berubah.

Nikah masih penting bagi banyak orang, tapi harusnya itu jadi pilihan yang sehat, bukan karena tekanan tradisi atau standar sosial. Ada waktu untuk nikah. Ada waktu untuk tumbuh sendiri. Dan keduanya sama-sama valid.

Siap nikah atau belum nikah… yang penting, jangan sampai pilihan hidup lo dimarahin timeline. 

Bagikan Artikel:
Bagikan artikel ini ke sosial media