Kalian yang kaum Gen-Z dan mungkin milenial keatas pasti pernah denger lagu “Shape of You” yang pernah jadi lagu top global pada masanya.
Karena jujur saja sob, ketika Ed Sheeran merilis album “÷ (Divide)” pada 2017, dampaknya bukan cuma di chart musik. Tapi juga di stasiun televisi, playlist wedding, radio mobil bapak-bapak, sampai karaoke keluarga.
Album ini seperti paket komplit emosi manusia: ada cinta, nostalgia, kehilangan, sampai refleksi keluarga. Kalau hidup itu roller coaster, “÷ (Divide)” adalah soundtrack-nya.
Dan uniknya, judul album ini pakai simbol matematika: Divide. Tapi bukannya membagi, album ini justru menyatukan banyak genre dan rasa.
Secara musikal, “÷” adalah bukti bahwa pop masih bisa tetap sederhana tapi efektif. Lagu seperti "Shape of You" jelas jadi magnet utama dengan beat dancehall ringan, hook super nempel, dan lirik yang gampang masuk kepala.
Bahkan buat orang yang biasanya sok indie dan bilang “gue nggak dengerin pop”, kemungkinan besar tetap pernah nyanyi “I’m in love with the shape of you” tanpa sadar.
Tapi jangan salah, album ini bukan cuma satu lagu viral. Ada juga “Castle on the Hill” yang terasa seperti surat cinta untuk masa muda, tentang pulang kampung, teman lama, dan kenangan yang selalu terasa lebih hangat kalau dilihat dari jauh.
Lalu ada "Perfect", lagu yang sejak dirilis hampir otomatis jadi soundtrack pernikahan di berbagai belahan dunia. Kalau ada pasangan yang menikah tanpa lagu ini, kemungkinan DJ-nya lagi cuti.
Yang membuat album ini kuat sebenarnya adalah spektrum emosinya. Kalau bagian awal album terasa ringan dan romantis, bagian akhir justru semakin personal. Contohnya “Supermarket Flowers”, lagu yang ditulis Ed Sheeran setelah kehilangan neneknya.
Liriknya sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Tidak ada metafora rumit, tidak ada puitisasi berlebihan. Hanya cerita keluarga yang terasa jujur. Karena kadang musik yang paling menyentuh bukan yang paling kompleks, tapi yang paling manusia.
Trivia yang bikin album ini terasa makin keren
Album “÷ (Divide)” debut di posisi nomor satu di banyak negara dan menjadi salah satu album terlaris dekade 2010-an.
“Shape of You” sempat menjadi lagu paling banyak diputar di Spotify selama beberapa tahun sebelum akhirnya digeser lagu lain.
Menariknya, “Shape of You” awalnya tidak ditulis untuk Ed Sheeran sendiri. Lagu itu sempat direncanakan untuk artis lain sebelum akhirnya ia putuskan untuk menyimpannya.
Ed Sheeran juga dikenal menulis banyak lagu hanya dengan gitar akustik sebagai dasar. Artinya, banyak lagu di album ini sebenarnya bisa berdiri kuat bahkan tanpa produksi besar.
Banyak album pop yang meledak di tahun rilisnya, tapi cepat terasa usang. “÷” justru sebaliknya. Lagu-lagunya masih sering muncul di playlist random, wedding, atau video TikTok yang tiba-tiba bikin orang nostalgia.
Salah satu alasannya mungkin karena Ed Sheeran punya kemampuan langka: menulis lagu yang terasa personal tapi tetap universal. Cinta pertama, pulang kampung, kehilangan keluarga, semua orang punya versi cerita itu.
Album “÷” mungkin bukan album paling eksperimental dalam sejarah musik. Tapi dia punya sesuatu yang sering lebih penting dari eksperimen: kejujuran.
Album ini tidak mencoba terdengar terlalu rumit. Ia hanya bercerita tentang cinta, tentang rumah, tentang keluarga.
Karena pada akhirnya, musik bukan cuma soal nada atau produksi mahal. Musik adalah soal perasaan yang berhasil sampai ke telinga orang lain.
Dan kalau satu album bisa membuat jutaan orang di berbagai negara merasa relate… mungkin itu bukan sekadar pop. Itu sudah jadi memori kolektif.
Sekarang lagu dari album “÷” yang paling sering lo putar itu yang mana?